Bencana membuatku kuat- sudut mata kinan
Bencana Membuatku Kuat
Oleh
: Herdianita P andelaki
Perkenalkan namaku Herdianita Pandelaki duduk
dikelas XI di SMA 1 Palu, tanggal 28 september 2018, Aku dan Sahabatku mengikuti
pembukaan kegiatan LDKS (Latihan Dasar Kepemimpinan Sekolah) di aula sekolah. Saat
pembukaan LDKS berlangsung, Kepala Sekolah menyampaikan kata-kata sambutannya
dan beberapa menit kemudian terjadi goncangan
kecil yang mengoncang lingkungan kami, kupikir Aku hanya pusing ternyata ini
gempa. Gempa tersebut membuat seisi aula menjadi panik termasuk Aku.
Disaat kepanikan terjadi Kepala Sekolah melantunkan
zikir melalui pengeras suara, seisi aula pun berzikir bersama-sama
mengikuti lantunan zikir. Gempa tersebut
datang kembali dan berlangsung lebih lama dari sebelumnya, membuat kami ketakutan.
Setelah keadaan tenang, Kepala Sekolah memberikan nasihat kepada kami, “Nak, jika kita mendapatkan bencana seperti
tadi janganlah panik. Jika saja kita mati disini berarti mati khusnul qotimah
karena datang ke sini mau menerima ilmu, jadi jangan khawatir. Andai saja saya
juga ikut panik dan menyuruh kalian keluar, mungkin di tangga sudah ada yang
diinjak injak dan di dorong-dorong. Alhamdulillah kita disini baik-baik saja”. Kalimat-kalimat
tersebut membuatku kagum dengan sosok kepemimpinan dari Kepala Sekolah. Selanjutnya
Kepala sekolah membuka acara kegiatan LDKS dan dilanjutkan dengan kegiatan LDKS.
Tepat jam 5 sore kami pulang. Sesampainya
di rumah, Aku mengganti pakaianku dan
membuka smartphone sekadar melihat sosmed.
Saat adzan magrib, Tiba tiba gempa terjadi lagi, namun kali ini lebih kuat dan
besar yang berkekuatan 7,4 SR. Aku berlari cepat untuk keluar dari rumah, tapi
tidak semudah itu. Kupegang pilar penyangga rumah dan Ku melihat ke atas, rasanya
lantai atas dari rumahku akan roboh dan menimpaku. Kumelihat ke depan, Paman
dan Ayahku berhasil keluar dari rumah, sementara itu Aku dan Mama masih
terjebak di dalam rumah. Ku melihat lampu hias di ruang tamu bergoyang dengan
hebat sampai menyentuh dinding, kemudian perabotan berserakan jatuh ke lantai.
Semua benda di rumahku saat itu bergeser dari posisi awalnya. Mulutku tak
henti-henti berzikir. Seakan aku tak percaya apa sedang terjadi.
Disaat Aku akan berancang-ancang lari, Aku terjatuh
ke rak sepatu di sebelahku. Kemudian Aku bangkit dan berlari melewati pecahan
keramik, syukur Aku tidak menginjaknya. Setelah Aku keluar, Mama menyusulku
dari belakang. Kami berkumpul di jalan, banyak orang berlalulalang dan banyak pengendara motor terjatuh,
Tiang-tiang listrik bergoyangan, bahkan jalan dan jembatan putus seketika sehingga
pengendara menjadi panik. Entah apa yang bisa kami lakukan saat itu, kami hanya
bisa menyelamatkan diri masing-masing.
Gempa terus
terjadi saat itu walaupun tidak sekencang tadi. Kemudian datang Tanteku bersama
motornya, Aku, Mama, dan Tante berpelukan menangis bersama. Mamaku berteriak
kesakitan, ternyata Mama terluka menginjak pecah beling, kakinya berdarah.
Seketika Mamaku duduk, Aku tidak tahu harus bagaimana. Datanglah seseorang Wanita
muda menghampiri kami memberikan pertolongan dengan memberikan sehelai uang
kertas. Aku pun bergegas menghampiri kios di depan rumahku untuk membeli obat
dengan uang itu. Sesudah aku membeli obat, Wanita muda itu telah pergi. Tanteku
pun mengompres luka dan membaluti luka tersebut dengan plester dan obat.
Tak lama kemudian datanglah berita dari seseorang
yang mengalami kejadian tsunami tersebut dan berlarian memberi tahu kejadian
tsunami, ia berteriak “ Air naikk!”. Kami pun mengambil sikap untuk segera
mencari perlindungan di lapangan terdekat. Sesampainya disana kami duduk
bersama. Mama seketika teringat dengan Adikku yang mengikuti kemah pramuka jauh
dari kami, Mama dan Papaku jadi gelisah mengingat Adik. Mama mencoba menelpon Adik,
tapi sinyal telpon tidak ada. Kami hanya bisa berdoa untuk keselamatan Adikku. Tak
lama kemudian Mama merasa lapar, Mama meminta bantuanku untuk membeli sesuatu
untuk dimakan.
Kala itu listrik mati, jalanan menjadi ramai dengan
orang-orang yang panik, Aku tidak memakai kacamata minusku terpaksa Aku harus
bisa berjalan tanpa kacamata dalam keadaan gelap gulita, hanya cahaya bulan
yang menerangi jalanku saat itu. Aku berjalan mencari kios terdekat, banyak
kios yang tutup. Kemudian, Pamanku melihatku dan bertanya kepadaku, “Nita, mau
kemana? Kenapa tidak tetap di lapangan saja, masih gempa ini.”, aku jawab,” Mamaku
lapar, saya mau beli sesuatu untuk dimakan.”. Seketika Pamanku memberikan tumpangan
padaku untuk mencari kios yang dibuka.
Aku melihat banyak rumah dan pagar yang roboh, hotel, serta jalan yang rusak
dan terbelah. Saat melewati masjid, kami melihat dari depan ada Pamanku yang
bernama Aslam, ia sedang berlari-lari kecil. Kami menyapanya, dan dia sangat membutuhkan
bantuan dari kami untuk diberikan tumpangan ke rumah keluarganya.
Disepanjang jalan banyak orang berkumpul, baru kali
ini Aku melihat begitu banyak orang berkumpul dijalan dan berlalu-lalang dengan
wajah yang penuh dengan kepanikan. Kami pun sampai di tujuan, Paman Aslam
sangat berterima kasih kepada kami. Setelah itu kami melanjutkan mencari kios
yang masih terbuka, kami melihat kios dari kejauhan dengan terangnya cahaya
lampu, kami pun mendekatinya. Kami melihat stok makanan di kios tersebut telah
habis, kami pun mencari lagi kios yang masih terbuka. Dari jalan dan lorong kami
lewati, kami belum menemukan kios yang buka. Ketika dalam perjalanan pulang, kami
melihat ada kios yang buka dengan pintu setengah terbuka, kami pun masuk. Kami
membeli beberapa air mineral dan snack.
Sepanjang malam gempa masih terus terjadi kami semua
hanya bisa pasrah dan berdoa memohon keselamatan dari sang pemilik Alam semesta
dengan berzikir, kami hanya makan apa adanya dan hanya tidur beralaskan tikar seadanya beratapkan langit dan bintang.
Esok paginya, Tanteku berusaha pergi
mencari Adikku dengan bensin yang sedikit. Jalan yang di lewati tanteku adalah
jalan yang semalam habis dihantam tsunami, banyak mayat yang belum dievakuasi. Sesampainya
di tujuan, Tante menemukan Adikku dengan keadaan selamat dan membawa Adik
pulang. Akhirnya kami berkumpul bersama. Kami masih berada dalam pengungsian 2
hari pasca gempa.
Malam kedua, hujan turun dengan
deras, kami masih bertahan di tenda karena kami masih ketakutan untuk masuk ke dalam
rumah meskipun hanya di teras rumah, alasannya karena gempa masih saja terus
mengguncang walaupun getarannya kecil tapi intens.
Malam ketiga, kami kembali ke rumah
dengan alasan menjaga rumah dari pencurian. Persediaan bensin dan makanan saat
itu mulai menipis, penjarahan terjadi di beberapa toko dan pom bensin. Kami mulai
ketakutan, Aku dan Pamanku mulai mencari makanan,bensin dan bantuan dengan
berjalan kaki. Syukur, dengan kegigihan kami, kami mendapatkan makanan dan
bantuan yang cukup dan bensin masih sukar untuk kami dapatkan, perlu perjuangan
seperti mengantri jergen bensin seharian.
Saat bensin sudah terisi penuh, Aku
dan Mamaku berkeliling melihat keadaan kota. Kami menelusuri jalan dan pantai.
Keadaan pantai saat itu sangat mencekam, dulunya ada 2 jalan kini menjadi 1
jalan, air pantai pun naik sampai ke jalan itu setelah itu kami melewati daerah
yang terkena likuifaksi.
Kehidupan masyarakat
pasca bencana tersebut membuat Banyak masyarakat kehilangan rumah dan keluarga.
Aku sadar bahwa masih ada orang yang lebih membutuhkan bantuan lebih dari Aku. Hal
Ini membuatku ingin menjadi RELAWAN tanpa pamrih untuk membantu
saudara-saudaraku yang ditimpa bencana.
Pengalaman pertamaku menjadi RELAWAN, membuatku menjadi
lebih banyak bersyukur atas Nikmat Yang ALLAH berikan. Kami meperoleh logistik,
obat-obatan dari beberapa posko relawan
dikota lalu kami membawanya untuk
dibagikan ke desa-desa yang terkena dampak gempa dan tsunami. Disana juga kami
membagikan seragam sekolah dan pakaian layak pakai, melihat mereka tersenyum, Aku merasakan
kebahagiaan tersendiri.
“Katakanlah :Dia yang berhak mengirim
azab dari atas atau dari bawah kakimu atau Dia mengelompokkan kamu dalam
golongan agar sebagian kamu merasakan keganasan. Perhatikanlah,Kami
mendatangkan kebesaran agar kamu memahami.”(QS. Al- An’aam: 65)
خَيْرُ الناسِ
أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ
“Sebaik Baik Manusia Adalah Yang
Paling Bermanfaat Bagi Orang Lain.”
(HR. Ath Thabarani, Al Mu’jam
Al Awsath No. 5787. Al Qudha’i, Musnad Syihab No. 129. Dihasankan Syaikh Al
Albani. Lihat Shahihul Jami’ No. 6662. Dari Jabir radhiyallau ‘anhuma)

Komentar
Posting Komentar